Mahasiswa kerap dianggap
menjadi agen perubahan. Bila melihat sejarah, hal itu benar adanya. Mahasiswa
Orde Lama telah menjadi aktor besar dalam menggulingkan tirani yang tengah dikondisikan
untuk kekal abadi. Betapa hebatnya mahasiswa mampu menekan pemerintahan untuk
mengadakan pembaruan. Bumi pertiwi sejanak kembali tersenyum tatkala tirani
yang bobrok telah roboh. Tak kalah juga mahasiswa Orde Baru. Aksi yang mereka
lakukan sangatlah fenomenal. Setelah tiga puluh dua tahun roda pemerintahan
dipimpin oleh tokoh yang ajek, mahasiswa berhasil memenuhi panggilan demokrasi
untuk mengabdi pada negeri. Lantas, bagaimanakah mahasiswa masa kini?
Melalui puisi, Najwa
Shihab mampu menjawab pertanyaan tersebut dengan baik. Berikut penggalan puisi
Najwa Shihab berjudul “Catatan Untuk Mahasiswa”.
Mahasiswa terlalu terambung IPK
Huruf dan Angka yang masih dianggap simbol bahwa ia bisa
Tak peduli hasil dari mana
Asal bisa mendapat A
Tak peduli rakyatnya lapar
Harga kebutuhan dikendalikan pasar
Teriakan mahasiswa tiada terdengar
Mereka diruangan berAC 'katanya' sedang belajar
Mahasiswa kekinian
Titip absen dianggap simbol setia kawan
Tak ada motivasi belajar membenahi tatanan
Kuliah asal cukup kehadiran
Masa
bodo rakyat menderita asal mereka duduk nyaman
Penggalan puisi tersebut
benar adanya. Mahasiswa seharusnya ingat akan ikrar mahasiswa ketika mereka
masih mengenakan hem putih dan dasi hitam. Mahasiswa sadar sesadar-sadarnya
membacakan ikrar dengan lantang dan keras janji yang akan mereka penuhi selagi
berstatus menjadi mahasiswa. Namun, sebagai harapan bangsa, mahasiswa justru
masih kerap bertingkah berseberangan dengan lisan mereka sendiri. Padahal
menjadi hal umum bila seluruh pelaku pendidikan tinggi memahami dan
melaksanakan tiga asas yang menjadi pegangan kehidupan akademik yaitu Tri
Dharma Perguruan Tinggi.
Secara bahasa, Tri Dharma
tersusun dari dua kata.Tri yang berarti tiga dan Dharma yang berarti kewajiban.
Bila diterjemahkan secara bahasa, Tri Dharma Perguruan Tinggi merupakan tiga
kewajiban yang dijalankan oleh peguruan tinggi. Secara istilah, Tri Dharma
Perguruan Tinggi merupakan tiga hal yang
harus dijalankan oleh civitas akademika, menjadi landasan visi dan tanggung
jawab dan melekat di jiwa dan raga civitas akademika. Jadi Tri Dharma Perguruan
Tinggi tidaklah hanya dilaksanakan untuk dosen, namun juga didukung mahasiswa.
Tri Dharma Perguruan
Tinggi memiliki tiga pilar utama. Tiga ppilar utama tersebut adalah Pendidikan,
Penelitian dan Pengembangan, dan Pengabdian Masyarakat. Secara kasat mata,
selurus isi Tri Dharma Perguruan Tinggi telah dilaksanakan oleh mahasiswa.
Mereka memenuhi kewajiban pendidikan dengan berangkat kuliah, melakukan
penelitian lewat penulisan skripsi ataupun tesis, dan melakukan pengabdian
kepada masyarakat lewat Kuliah Kerja Nyata (KKN) hingga ke daerah-daerah yang
belum terjamah modernitas. Namun, sudahkah tindakan tersebut dijiwai dengan
hati yang tulus?
Puisi yang telah penulis
kutip dapat menggambarkan kondisi mahasiswa era ini, meskipun tidak berlaku
bagi semuanya. Dalam perkuliahan dikenal dengan istilah tipsen, yaitu titip
absen. Mereka mengatasnamakan kebohongan dengan kesetiakawanan. Sejatinya, kebohongan
baru saja ditorehkan di atas Dharma yang dibangun atas kesucian. Ada lagi
mahasiswa yang malas-malasan. Gawai atau ponsel pintar kini menjadi “tuhan”
mereka. Mereka rela beribadah hingga larut malam agar mendapat kebahagiaan yang
dikata hakiki. Ujungnya, tugas terabaikan dan menyontek menjadi pilihan. Kasihan
bagi mereka yang kerja rodi mengerjakan tugas kelompok seorang diri.
Beruntungnya penelitian
telah banyak digalakkan. Telah banyak mahasiswa yang menghasilkan berbagai
karya tulis ilmiah serta hasil cipta karya yang berguna bagi masyarakat. Meski
begitu, masih banyak yang menghasilkan penelitian tidak dari tulisan tangan
sendiri. Skripsi sekarang bisa dibeli. Asal lancar saat presentasi, gelar pun
diraih cukup dengan uang sendiri.
Pengabdian masyarakat
yang dilakukan mahasiswa banyak menghasilkan karya positif. Kini mahasiswa tak
hanya dapat melakukan pengabdian melalui Kuliah Kerja Nyata (KKN), namun juga
dapat melalui kegiatan volunteering atau
sukarelawan ke daerah-daerah 3T (Terdepan, Tertinggal, Terluar) di Indonesia.
Banyak lembaga yang menawarkan kepada mahasiswa untuk bisa mengabdi ke
masyarakat. Setidaknya dengan tingginya jumlah kesempatan dan keinginan bagi
mahasiswa untuk melakukan pengabdian dapat menutupi kekurangan mahasiswa yang
terkadang masih berat hati meninggalkan zona nyaman.
Kondisi mahasiswa
generasi ini seperti rumah mewah yang kosong. Bangunannya telah disusun dari
kerangka yang kokoh. Dari jauh pun rumahnya terlihat megah. Nahasnya, bila kita
menyelisik lebih jauh ke dalam rumah mewah tersebut, masih terlihat banyak
ruang-ruang kosong. Apa jadinya bila bangunan hanyalah kosong? Rumah tak berisi
hanyalah bangunan tak berarti. Sangat disayangkan bila bangunan hanyalah megah
di luar, namun hampa di dalam.
Mahasiswa masa kini
dituntut tidak hanya hadir dalam ruangan, namun dapat membangun peradaban. Mahasiswa
perlu membuka hati untuk melihat ironi negeri sendiri. Tri Dharma Perguruan
Tinggi bukan hanya sebatas nama, namun menjadi jati diri mahasiswa. Tri Dharma
tidak hanya mengajarkan untuk melambungkan IPK, namun juga menginginkan adanya
karya nyata untuk rakyat Indonesia.
Franklin D. Roosevelt,
Presiden Amerika Serikat ke-32, mengatakan, “We cannot always build the future for our youth, but we can build our
youth for the future”. Tri Dharma Perguruan Tinggi adalah jalan menuju masa
depan dan Mahasiswa merupakan harapan peradaban. Bila mahasiswa terus
menjunjung tinggi Dharmanya, bukan tidak mungkin negeri kita akan menuju zaman
keemasan. Mahasiswa ada untuk Indonesia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar