Rabu, 12 September 2018

Tri Dharma Perguruan Tinggi: Jiwa dan Raga Mahasiswa

Mahasiswa kerap dianggap menjadi agen perubahan. Bila melihat sejarah, hal itu benar adanya. Mahasiswa Orde Lama telah menjadi aktor besar dalam menggulingkan tirani yang tengah dikondisikan untuk kekal abadi. Betapa hebatnya mahasiswa mampu menekan pemerintahan untuk mengadakan pembaruan. Bumi pertiwi sejanak kembali tersenyum tatkala tirani yang bobrok telah roboh. Tak kalah juga mahasiswa Orde Baru. Aksi yang mereka lakukan sangatlah fenomenal. Setelah tiga puluh dua tahun roda pemerintahan dipimpin oleh tokoh yang ajek, mahasiswa berhasil memenuhi panggilan demokrasi untuk mengabdi pada negeri. Lantas, bagaimanakah mahasiswa masa kini?
Melalui puisi, Najwa Shihab mampu menjawab pertanyaan tersebut dengan baik. Berikut penggalan puisi Najwa Shihab berjudul “Catatan Untuk Mahasiswa”.

Mahasiswa terlalu terambung IPK
Huruf dan Angka yang masih dianggap simbol bahwa ia bisa
Tak peduli hasil dari mana
Asal bisa mendapat A

Tak peduli rakyatnya lapar
Harga kebutuhan dikendalikan pasar
Teriakan mahasiswa tiada terdengar
Mereka diruangan berAC 'katanya' sedang belajar

Mahasiswa kekinian
Titip absen dianggap simbol setia kawan
Tak ada motivasi belajar membenahi tatanan
Kuliah asal cukup kehadiran
Masa bodo rakyat menderita asal mereka duduk nyaman

Penggalan puisi tersebut benar adanya. Mahasiswa seharusnya ingat akan ikrar mahasiswa ketika mereka masih mengenakan hem putih dan dasi hitam. Mahasiswa sadar sesadar-sadarnya membacakan ikrar dengan lantang dan keras janji yang akan mereka penuhi selagi berstatus menjadi mahasiswa. Namun, sebagai harapan bangsa, mahasiswa justru masih kerap bertingkah berseberangan dengan lisan mereka sendiri. Padahal menjadi hal umum bila seluruh pelaku pendidikan tinggi memahami dan melaksanakan tiga asas yang menjadi pegangan kehidupan akademik yaitu Tri Dharma Perguruan Tinggi.
Secara bahasa, Tri Dharma tersusun dari dua kata.Tri yang berarti tiga dan Dharma yang berarti kewajiban. Bila diterjemahkan secara bahasa, Tri Dharma Perguruan Tinggi merupakan tiga kewajiban yang dijalankan oleh peguruan tinggi. Secara istilah, Tri Dharma Perguruan Tinggi merupakan tiga hal  yang harus dijalankan oleh civitas akademika, menjadi landasan visi dan tanggung jawab dan melekat di jiwa dan raga civitas akademika. Jadi Tri Dharma Perguruan Tinggi tidaklah hanya dilaksanakan untuk dosen, namun juga didukung mahasiswa.
Tri Dharma Perguruan Tinggi memiliki tiga pilar utama. Tiga ppilar utama tersebut adalah Pendidikan, Penelitian dan Pengembangan, dan Pengabdian Masyarakat. Secara kasat mata, selurus isi Tri Dharma Perguruan Tinggi telah dilaksanakan oleh mahasiswa. Mereka memenuhi kewajiban pendidikan dengan berangkat kuliah, melakukan penelitian lewat penulisan skripsi ataupun tesis, dan melakukan pengabdian kepada masyarakat lewat Kuliah Kerja Nyata (KKN) hingga ke daerah-daerah yang belum terjamah modernitas. Namun, sudahkah tindakan tersebut dijiwai dengan hati yang tulus?
Puisi yang telah penulis kutip dapat menggambarkan kondisi mahasiswa era ini, meskipun tidak berlaku bagi semuanya. Dalam perkuliahan dikenal dengan istilah tipsen, yaitu titip absen. Mereka mengatasnamakan kebohongan dengan kesetiakawanan. Sejatinya, kebohongan baru saja ditorehkan di atas Dharma yang dibangun atas kesucian. Ada lagi mahasiswa yang malas-malasan. Gawai atau ponsel pintar kini menjadi “tuhan” mereka. Mereka rela beribadah hingga larut malam agar mendapat kebahagiaan yang dikata hakiki. Ujungnya, tugas terabaikan dan menyontek menjadi pilihan. Kasihan bagi mereka yang kerja rodi mengerjakan tugas kelompok seorang diri.    
Beruntungnya penelitian telah banyak digalakkan. Telah banyak mahasiswa yang menghasilkan berbagai karya tulis ilmiah serta hasil cipta karya yang berguna bagi masyarakat. Meski begitu, masih banyak yang menghasilkan penelitian tidak dari tulisan tangan sendiri. Skripsi sekarang bisa dibeli. Asal lancar saat presentasi, gelar pun diraih cukup dengan uang sendiri.
Pengabdian masyarakat yang dilakukan mahasiswa banyak menghasilkan karya positif. Kini mahasiswa tak hanya dapat melakukan pengabdian melalui Kuliah Kerja Nyata (KKN), namun juga dapat melalui kegiatan volunteering atau sukarelawan ke daerah-daerah 3T (Terdepan, Tertinggal, Terluar) di Indonesia. Banyak lembaga yang menawarkan kepada mahasiswa untuk bisa mengabdi ke masyarakat. Setidaknya dengan tingginya jumlah kesempatan dan keinginan bagi mahasiswa untuk melakukan pengabdian dapat menutupi kekurangan mahasiswa yang terkadang masih berat hati meninggalkan zona nyaman.
Kondisi mahasiswa generasi ini seperti rumah mewah yang kosong. Bangunannya telah disusun dari kerangka yang kokoh. Dari jauh pun rumahnya terlihat megah. Nahasnya, bila kita menyelisik lebih jauh ke dalam rumah mewah tersebut, masih terlihat banyak ruang-ruang kosong. Apa jadinya bila bangunan hanyalah kosong? Rumah tak berisi hanyalah bangunan tak berarti. Sangat disayangkan bila bangunan hanyalah megah di luar, namun hampa di dalam.
Mahasiswa masa kini dituntut tidak hanya hadir dalam ruangan, namun dapat membangun peradaban. Mahasiswa perlu membuka hati untuk melihat ironi negeri sendiri. Tri Dharma Perguruan Tinggi bukan hanya sebatas nama, namun menjadi jati diri mahasiswa. Tri Dharma tidak hanya mengajarkan untuk melambungkan IPK, namun juga menginginkan adanya karya nyata untuk rakyat Indonesia.
Franklin D. Roosevelt, Presiden Amerika Serikat ke-32, mengatakan, “We cannot always build the future for our youth, but we can build our youth for the future”. Tri Dharma Perguruan Tinggi adalah jalan menuju masa depan dan Mahasiswa merupakan harapan peradaban. Bila mahasiswa terus menjunjung tinggi Dharmanya, bukan tidak mungkin negeri kita akan menuju zaman keemasan. Mahasiswa ada untuk Indonesia.
  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar